Aku tidak pernah tahu
kalau hidup bisa berubah dalam sekejap. Aku juga tidak pernah tahu kalau
kebahagian yang stiap hari kita teguk justru hancur lebur dalam sehari. Keindahan
yang terpampang di depan mata kini menghilang. Dan aku terjabak dalam kegelapan
yang tak berujung. Kini yang tersisa hanya dua pilihan BERTAHAN atau MENYERAH.
‘ yang biasanya
diabaikan emang baru terasa kalau sudah di ambil orang sob’
Itu kata-kata Diana,
teman masa sd – sma – sekarang saat aku
cerita tentang kejadian yang aku alami hari itu. Benar, kata-katanya
benar-benar membuatku sadar dan makin menyesal, menyia-nyiakan dia yang
menyanyangi ku.
Sebenarnya ini semua
salah ku, dan akupun menyadari kesalahan yang telah aku perbuat hampir 5 tahun
belakangan ini. Entah mengapa aku sampai setega itu berbuat ini kepadanya.
Selasa, 18 maret 2014
pukul 16.22 wib. Saat itu mata kuliah terakhir telah usai. Tiba-tiba ponsel ku
bergetar dan aku meraihnya di dalam saku tas jinjingku. Saat aku lihat, aku
tahu nomernya, ini dia. Langsung ku angkat. Disinilah semuanya berawal mengapa
berberapa hari ini aku merasa tidak bergairah untuk hidup lagi rasanya.
Saat mendengar suarnya
di seberang sana, aku tahu kalau dia sedang sedih, atau ada masalah karna aku
tahu karakternya. Tidak biasanya juga dia menelpon ku dengan nada suara seperti
itu. Biasnya dia langsung ceria dan bersemangat. Mungkin dengan berat ia lalu
mengatakan ‘ aku baru nikah ‘ kata itu entah mengapa langsung menghujam ke
hatiku seperti anak panah yang dibentangkan busurnya, perih. Dengan tercengang
aku hanya memblas ‘oh’ dan langsung beralasan dijalan mau pulang agar
pembicaraan lewat ponsel itu segera berakhir.
Entah mengapa aku
merasa sesakit dan sesedih ini, padahal aku sendiri yang menyuruhnya untuk
melupakanku dan mencari penggantiku. tapi aku sangat tak menyangka bahwa akan
seperti ini. Sore itu pun langit sangat tenduh, gelap dan mencekam sama seperti
suasana hatiku. Dan tidak lama hujan pun turun mewakili hatiku yang menangis dan
perih menelan luka yang tanpa sadar aku ciptakan sendiri.
Duhulu ia sayang
kepadaku dan selalu memohon kepadaku agar aku kembali dengannya, tapi dengan
keegoisan dan kegengsian ku aku selalu jawab tidak dan tidak akan pernah
mungkin karena menurutku ia terlalu baik dan sempurna untukku. Namun,
kenyataanya ternyata aku masih menyayanginnya dan takut kehilangan nya namun
itu semua tak pernah kuucapkan kepadanya hanya kusimpan dalam hati. Mungkin, ia
sudah lelah dengan semua ini hingga ia akhirnya memutuskan untuk mundur secara
perlahan dan menghilang .
Ya, itulah satu hari
yang dapat membuat hidupku berubah. Selama ini aku hanya gengsi dan malu
mengakuinya, hingga akhirnya aku menyesal seperti saat ini. Penyesalan ini tak
ingin aku ulangi, aku tidak ingin seperti keledai yang selalu mengulangi
kesalahan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar