Rabu, 19 Maret 2014

Before Rain #1



Aku tidak pernah tahu kalau hidup bisa berubah dalam sekejap. Aku juga tidak pernah tahu kalau kebahagian yang stiap hari kita teguk justru hancur lebur dalam sehari. Keindahan yang terpampang di depan mata kini menghilang. Dan aku terjabak dalam kegelapan yang tak berujung. Kini yang tersisa hanya dua pilihan BERTAHAN atau MENYERAH.

‘ yang biasanya diabaikan emang baru terasa kalau sudah di ambil orang sob’

Itu kata-kata Diana, teman masa sd – sma – sekarang saat  aku cerita tentang kejadian yang aku alami hari itu. Benar, kata-katanya benar-benar membuatku sadar dan makin menyesal, menyia-nyiakan dia yang menyanyangi ku. 
Sebenarnya ini semua salah ku, dan akupun menyadari kesalahan yang telah aku perbuat hampir 5 tahun belakangan ini. Entah mengapa aku sampai setega itu berbuat ini kepadanya.
Selasa, 18 maret 2014 pukul 16.22 wib. Saat itu mata kuliah terakhir telah usai. Tiba-tiba ponsel ku bergetar dan aku meraihnya di dalam saku tas jinjingku. Saat aku lihat, aku tahu nomernya, ini dia. Langsung ku angkat. Disinilah semuanya berawal mengapa berberapa hari ini aku merasa tidak bergairah untuk hidup lagi rasanya.
Saat mendengar suarnya di seberang sana, aku tahu kalau dia sedang sedih, atau ada masalah karna aku tahu karakternya. Tidak biasanya juga dia menelpon ku dengan nada suara seperti itu. Biasnya dia langsung ceria dan bersemangat. Mungkin dengan berat ia lalu mengatakan ‘ aku baru nikah ‘ kata itu entah mengapa langsung menghujam ke hatiku seperti anak panah yang dibentangkan busurnya, perih. Dengan tercengang aku hanya memblas ‘oh’ dan langsung beralasan dijalan mau pulang agar pembicaraan lewat ponsel itu segera berakhir.
Entah mengapa aku merasa sesakit dan sesedih ini, padahal aku sendiri yang menyuruhnya untuk melupakanku dan mencari penggantiku. tapi aku sangat tak menyangka bahwa akan seperti ini. Sore itu pun langit sangat tenduh, gelap dan mencekam sama seperti suasana hatiku. Dan tidak lama hujan pun turun mewakili hatiku yang menangis dan perih menelan luka yang tanpa sadar aku ciptakan sendiri. 
Duhulu ia sayang kepadaku dan selalu memohon kepadaku agar aku kembali dengannya, tapi dengan keegoisan dan kegengsian ku aku selalu jawab tidak dan tidak akan pernah mungkin karena menurutku ia terlalu baik dan sempurna untukku. Namun, kenyataanya ternyata aku masih menyayanginnya dan takut kehilangan nya namun itu semua tak pernah kuucapkan kepadanya hanya kusimpan dalam hati. Mungkin, ia sudah lelah dengan semua ini hingga ia akhirnya memutuskan untuk mundur secara perlahan dan menghilang .
Ya, itulah satu hari yang dapat membuat hidupku berubah. Selama ini aku hanya gengsi dan malu mengakuinya, hingga akhirnya aku menyesal seperti saat ini. Penyesalan ini tak ingin aku ulangi, aku tidak ingin seperti keledai yang selalu mengulangi kesalahan yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar