Sudah 4 hari kejadian
paling menyedihkan itu berlalu. Cuma, bekasnya luka tusukan kata-kata itu masih
membekas hingga kini. Hari-hariku terasa berat. Apa ini yang dinamakan Patah Hati? Kalau iya, sungguh amat
menyakitkan. Aku jadi teringat saat diriku dulu merasakan sakit gigi, dengan
entengnya aku mengataka ‘ lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ‘ . jujur,
saat itu aku belum pernah merasakan sakit hati makanya aku begitu lantang
mengucapkan itu. Tapi saat ketika patah hati itu datang tanpa di undang rasanya
ingin kutarik kata-kata ku tersebut. Lebih baik sakit gigi 1-2 hari akan hilang
daripada patah hati yang entah kapan ia akan menghilang dan lenyap.
Selama ini aku hanya
menceritakan kejadian kepada satu temanku, namanya Putri. Dia teman kampusku. Orangnya
cantik,pendiam,cerdas dan berwibawa. Aku mengenalnya lewat twitter dan ternyata
kita teman sekelas. Aku hanya bercerita
semua ini dengannya. dia yang selalu setia mendengar ceritaku, keluh kesahku
dan semua carut-marut perasaan kelam dihati aku tumpahkan padanya. Dia yang
selalu menyemangati agar selalu menatap ke depan dan jangan sekali-kali pernah
menengok kebelakang. Lupakan, hilangkan dan ikhlaskan.
Cinta dan kehilangan
begitu dekat ternyata, sesaat aku teringat saat pertama kali cinta itu muncul
diantara aku dan dia. Begitu indah, muncul secara natural dan lucu. Mengapa lucu? Karna umurku yang terpaut
lumayan jauh dengannya. namun aku lupa untuk menyiapkan kata ‘selamat tinggal’
kepadanya karna yang ada dipikiranku hanya selalu bersama dan tetap akan
bersama. Namun sangat berbeda dengan kenyataan. Takdirku bukan dengannya dan
dia bukan denganku. Kami terpisah. Tanpa ada kata pertanda bahwa kami sudah
pisah dan pergi menuju jalan kami sendiri-sendiri.
Kesedihan yang teramat dalam akan
menerpa setelah cinta yang begitu kita harapkan tak bisa berlanjut. Padahal telah
terlakoni sekian rajutan kenangan bersamanya. Namu ikhlas menerima kenyataan,
itu wajib dilakukan ketika cinta tak juga menyatakukan hati.
‘Novel
: Selamat Tinggal Kenangan by Aster Putih’
Apa aku dapat ikhlas
menerima kenyataan bahwa kini ia milik orang lain? Jujur saat ini aku sangat
cemburu jika membayangkan dia dengan wanita lain, aku selalu berdoa semoga
hatiku ikhlas menerima kenyataan ini. Tapi entah kapan aku bisa ikhlas. Hanya waktu
yang mampu menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar